Hari/tanggal : Senin  19 April – 26 Mei 2010

PJP             : Ibu Ucu Riyantini

Tempat       : Laboratorium Biologi 2

LAPORAN PRAKTIKUM KULTUR JARINGAN

(Pembuatan Media, Kultur Membuat Kalus Embrio Padi, Sterilisasi Eksplan Daun Tembakau, Subkultur Tunas Anggrek Dendrobium, Kultur Stek Batang Perbedaan Penggunaan Kinetin dan BAP)

Disusun oleh        :

Seztifa Miyasyiwi G34070061

Muhammad Irfan G34070100

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

DEPARTEMEN BIOLOGI

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2010

PEMBUATAN MEDIA

Pendahuluan

Teknik Kultur Jaringan adalah mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Dalam metode pembuatan kultur jaringan ada faktor penentunya yaitu media. Media  merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan.  Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon.  Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain.  Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan.  Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca.  Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf.

Mikroorganisme dapat ditumbuhkan dan dikembangkan pada suatu substrat yang disebut medium. Medium yang digunakan untuk menumbuhkan dan mengembangbiakkan mikroorganisme tersebut harus sesuai susunanya dengan kebutuhan jenis-jenis mikroorganisme yang bersangkutan. Beberapa mikroorganisme dapat hidup baik pada medium yang sangat sederhana yang hanya mengandung garam anargonik di tambah sumber karbon organik seperti gula. Sedangkan mikroorganime lainnya memerlukan suatu medium yang sangat kompleks yaitu berupa medium ditambahkan darah atau bahan-bahan kompleks lainnya. (Volk, dan Wheeler,1993 . Mikrobiologi Dasar Jilid 1). Akan tetapi yang terpenting medium harus mengandung nutrien yang merupakan substansi dengan berat molekul rendah dan mudah larut dalam air. Nutrien ini adalah degradasi dari nutrien dengan molekul yang kompleks. Nutrien dalam medium harus memenuhi kebutuhan dasar makhluk hidup, yang meliputi air, karbon, energi, mineral dan faktor tumbuh.

Tujuan

Mengenalkan pembuatan media tanam dari stok-stok bahan kimia.

Metode

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah stok unsur hara makro nutrien, stok unsur hara mikro yaitu KI 83 mg/100ml, H3BO3 620 mg/100ml, MnSO4. 4H2O 2230 mg/100ml, ZnSO4. 7H2O 860 mg/100ml, Na2MoO4. 2H2O 25 mg/100ml, CuSO4.5H2O 2,5 mg/100ml, CoCl2 . 6H2O 2,5 mg/100ml. Vitamin yang digunakan dalam pembuatan media ini adalah nicotinic acid 100 mg/100ml, Pyridoxine HCl 100 mg/100ml, Thiamine HCl 100 mg/100ml , Inositol yang ditambahkan secara langsung. stok unsur besi, stok vitamin, stok moi inositol, stok zat pengatur tumbuh, sukrosa, aquades, agarose, dan senyawa NaOH/HCl untuk pengukuran pH.

Alat yang digunakan adalah timbangan neraca analitik, gelas ukur, sudip, autoklaf, alumunium foil, saringan, erlenmeyer, gelas piala, rak penyimpanan, kulkas dan sebagainya.

Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka didapatkan hasil bahwa media yang telah dibuat berhasil dan dapat dipergunakan sebagai media tanam dalam penanaman tanaman eksplan.

Cara kerja dari praktikum ini adalah dengan menyiapkan gelas piala yang diisi dengan aquades secukupnya sebagai pelarut (volume akhir tidak melebihi volume yang dikehendaki), setelah itu diletakkan di atas hot plate magnetic stirrer, kemudian stirrer dihidupkan. Disiapkan stok-stok unsur hara makro, mikro, besi, vitamin, mio inositol, dan zat pengatur tumbuh. Masing-masing stok unsur hara diambil sesuai volume yang tertera pada massing-masing botol stok (disesuaikan dengan volume media yang akan dibuat), dimasukkan ke dalam gelas piala sesuai dengan urutannya. Sukrose ditambahkan sesuai dengan media yang akan dibuat. pH diukur hingga mencapai 5,7-5,8, bila terlalu asam dapat ditambahkan NaOH, dan bila terlalu basa ditambahkan HCl. Aquades ditambahkan sampai volume yang dikehendaki, kemudian ditambahkan agar dan pemanas pada hot plate magnetic stirrer dinyalakan, tunggu sampai larutan masak dan homogen. Botol-botol sebagai tempat media disiapkan. Media yang telah masak dituang ke dalam botol-botol media, kemudian tutup dengan menggunakan tutup plasstik atau alumunium foil. Media disterilkan dengan autoklaf dengan suhu 1200 0C, setelah tidak panas, maka media dapat digunakan atau dipergunakan.

Didalam komposisinya media kultur jaringan memupnyai unsur-unsur yang harus dipenuhi sebagai syarat tanaman tersebut dapat tumbuh. Unsur yang pertama yaitu hara organik. Tanaman yang tumbuh dalam kondisi normal bersifat autotrof dan dapat mensintesa semua kebutuhan bahan organiknya. Meskipun tanaman in vitro dapat mensintesa senyawa ini, diperkirakan mereka tidak menghasilkan vitamin dalam jumlah yang cukup untuk pertumbuhan yang sehat dan satu atau lebih vitamin mesti ditambahkan ke media. Thiamin merupakan vitamin yang penting, selain itu asam nikotin, piridoksin dan inositol biasanya ditambahkan. Selain bahan organik tersebut, bahan kompleks seringkali ditambahkan, termasuk ekstrak ragi, casein hydrolysate, air kelapa, jus jeruk, jaringan pisang, dan lain – lain. Penambahan bahan kompleks ini menghasilkan media yang tak terdefinisi. Dengan penelitian yang cukup, semestinya bahan kompleks ini dapat diganti dengan zat tertentu, mungkin tambahan suatu vitamin atau asam amino.

Tanaman dalam kultur jaringan tumbuh secara heterotrof dan karena mereka tidak cukup mensintesa kebutuhan karbonnya, maka sukrosa harus ditambahkan ke dalam media. Sumber karbon ini menyediakan energy bagi pertumbuhan tanaman dan juga sebagai bahan pembangun untuk memproduksi molekul yang lebih besar yang diperlukan untuk tumbuh. Biasanya sukrosa pada konsentrasi 1 – 5% digunakan sebagai sumber karbon tapi sumber karbon lain seperti glukosa, maltosa, galaktosa dan laktosa juga digunakan. Ketika sukrosa diautoklaf, terjadi hidrolisis untuk menghasilkan glukosa dan fruktosa yang dapat digunakan lebih efisien oleh tanaman dalam kultur.

Formulasi media kultur jaringan pertama kali dibuat berdasarkan komposisi larutan yang digunakan untuk hidroponik, khususnya komposisi unsur-unsur makronya. Unsur-unsur hara diberikan dalam bentuk garam-garam anorganik. Komposisi media dan perkembangan formulasinya didasarkan pada jenis jaringan, organ dan tanaman yang digunakan serta pendekatan dari masing-masing peneliti. Beberapa jenis sensitif terhadap konsentrasi senyawa makro tinggi atau membutuhkan zat pengatur tertentu untuk pertumbuhannya. Pada periode tahun 1930an, formulasi media terutama ditujukan untuk menumbuhkan akar, tuber dan kambium. Media untuk penumbuhan akar yang dikembangkan oleh White (1934 dalam Gunawan 1988) praktikum kali ini, praktikan ditugaskan untuk membuat media MS (Murashige dan Skoog 1962). Media ini mengandung konsentrasi garam dan nitrat yang lebih tinggi dibandingkan media lain, dan telah sukses digunakan pada berbagai tanaman dikotil. Untuk inisiasi kalus, 2.4-D ditambahkan ke media dengan konsentrasi 1 – 5 mgL-1. Untuk multiplikasi tunas, sitokinin seperti BAP ditambahkan dan juga diberi auksin, seperti NAA pada konsentrasi yang rendah. Untuk inisiasi akar, IBA pada konsentrasi 1 – 2 mgL-1 ditambahkan. Faktor yang paling sulit ditentukan dalam kultur jaringan adalah zat pengatur tumbuh dan biasanya perlu melakukan penelitian kecil untuk menentukan konsentrasi terbaik yang akan digunakan. Ada 2 pendekatan: Pendekatan pertaman adalah dengan menggunakan media dasar MS dan meneliti kisaran dua zat pengatur tumbuh yang berbeda Dalam pembuatan media, langkah pertama adalah membuat stok dari media terpilih. Penggunaan larutan stok menghemat pekerjaan menimbang bahan yang berulang–ulang setiap kali membuat media. Selain itu, kadang-kadang timbangan yang dibutuhkan untuk menimbang jumlah kecil tidak tersedia dalam laboratorium. Setiap larutan stok dapat dipergunakan sampai 100 liter media, bahkan larutan stok mikro dapat dipergunakan sampai 100 liter media.

Larutan stok dapat disimpan ditempat yang bertemperatur rendah dan gelap. Pembuatan larutan stok berdasarkan pengelompokan dalam : Stok makro, stok mikro, stok Fe, stok vitamin dan stok hormone terutama bila larutan stok tidak disimpan terlalu lama (segera digunakan habis). Stok hormon dapat disimpan antara 2-4 minggu, sedangkan stok hara dapat disimpan 4-8 minggu. Dengan adanya larutan stok, pembuatan media selanjutnya hanya dengan teknik pengenceran dan pencampuran saja. Hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan larutan stok adalah penyimpanan (daya simpan) larutan. Larutan yang sudah mengalami pengendapan, tidak dapat digunakan lagi. Pengendapan larutan stok umumnya terjadi bila kepekatan dapat dihindari dengan membuat larutan yang tidak terlalu pekat atau tidak menggunakan larutan campuran, yaitu dengan membuat satu larutan stok hanya untuk satu jenis bahan (terutama untuk unsur hara makro). Kondisi simpan juga diperhatikan, karena ada beberapa bahan yang tidak tahan dalam suhu tinggi atau cahaya. Larutan stok kadang-kadang ditumbuhi mikroorganisme. Larutan stok yang terkontaminasi mikroorganisme ini, juga tidak dapat digunakan lagi. Oleh karena itu kondisi simpan harus dijaga kebersihan dan tempat (wadah) larutan harus diusahakan cara-cara pembuatan larutan stok untuk media Murashige dan Skoog.

Kesimpulan

Berdarsarkan hasil percobaan maka dapat dismpulkan bahwa pembuatan media sebagai bahan tanam eksplan berhasil.
Daftar Pustaka

Anderson. 2000. Effect of Level and Duration Suplemantary Light on Development of Chrysanthemum. Hort. Abstract. 61(92): 148-155.

Anonim. 2008. Kultur Jaringan : Alternatif Pengadaan Bibit Unggul. http://www.dephut.go.id/INFORMASI/SETJEN/PUSSTAN/info_5_1_0604/isi_11.htm. Diakses tanggal 12 Mei 2009.

Gunawan, L.W. 2001. Budidaya Anggrek. Jakarta: Penebar Swadaya.
Heddy, S. 1991. Hormon Tumbuhan. Jakarta: CV Rajawali.

Hendaryono, D. P. S. dan A Wijayani. 2002. Teknik Kultur Jaringan. Kanisius. Yogyakarta.

Mariska, I. dan R. Purnamaningsih. 2001. Perbanyakan vegetatif tanaman tahunan melalui kultur in vitro. Jurnal Litbang Pertanian 20 (1) : 1-8.
Sany. 2007. Tentang Kultur Jaringan. http://www.bndah-lembang.com/kuljar. Diakses tanggal 12 Mei 2009.

Starling, R.J., H.J. Newburry, dan J.A . Callow, 1986. Putative Auxin Receptors in Tobacco Callus. University of Birmingham. UK.

Wijayani, A. 2002. Pertumbuhan kentang pada berbagai intensitas cahaya dan konsentrasi benzil amino purin. Agrivet 5 (2): 98-104

Kultur Membuat Kalus Embrio Padi

Pendahuluan

Kultur antera merupakan salah satu teknik kultur in vitro yang dapat mempercepat perolehan galur murni melalui tanaman haploid ganda langsung pada generasi pertama, sehingga biaya, lahan serta tenaga kerja yang dikeluarkan dapat dihemat (Dewi et all. 1996). Proses kultur kalus ini melibatkan induksi kalus dan regenerasi tanaman. Padi termasuk dalam suku padi-padian atau Poaceae (sinonim: Graminae atau Glumiflorae). Terna semusim, berakar serabut; batang sangat pendek, struktur serupa batang terbentuk dari rangkaian pelepah daun yang saling menopang; daun sempurna dengan pelepah tegak, daun berbentuk lanset, warna hijau muda hingga hijau tua, berurat daun sejajar, tertutupi oleh rambut yang pendek dan jarang; bunga tersusun majemuk, tipe malai bercabang, satuan bunga disebut floret, yang terletak pada satu spikelet yang duduk pada panikula; buah tipe bulir atau kariopsis yang tidak dapat dibedakan mana buah dan bijinya, bentuk hampir bulat hingga lonjong, ukuran 3 mm hingga 15 mm, tertutup oleh palea dan lemma yang dalam bahasa sehari-hari disebut sekam, struktur dominan adalah endospermium yang dimakan orang.

Pemuliaan tanaman merupakan suatu metoda yang secara sistematik merakit keragaman genetik mennjadi suatu bentuk yang bermanfaat bagi kehidupan manusia .

Tujuan

Percobaan ini bertujuan untuk membuat kalus dari embrio padi IR-64

Metode

Bahan yang dipergunakan dalam praktikum ini adalah dengan menggunakan larutan Bayclin 20% dan ditambah tween 80 ( 1 tetes), akuades steril serta media tanam yang telah dipersiapkan pada praktikum sebelumnya.

Alat yang dipergunakan adalah dengan menggunakan botol tanam, penjepit, laminar, gunting, plastic, serta karet pengikat.

Cara kerjanya adalah kupas sekam yang membalut embrio padi sampai terlihat embiro padi yang dimaksud, lalu kemudian persiapkan laminarnya, jaga agar steril dengan menyemprotkan alcohol disekitar daerah ruang laminar, lalu sterilkan penjepit dan panaskan, diamkan sebentar agar penjepit tidak merusak jaringan tumbuhan, setelah hangat atau dingin embrio kemudian dipindahkan kemedia tanam dan ditutup 2 kali dengan menggunakan plastic wrap dan menggunakan plastic biasa agar tidak terjadi kontaminan. Kemudian botol yang telah berisi eksplan didiamkan dalam ruangan, serta diamati pertumbuhannya.

Hasil Pengamatan

Gambar 1. Kultur kalus embrio padi

Pembahasan

Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan.  Tabung reaksi yang telah ditanami eksplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar. Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik.  Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri).

Prcobaan ini menggunakan larutan bayclin 20% yang berfungsi sebagai desinfektan yang menjaga agar eksplan tetatp terjaga dari kontaminan – kontaminan yang ada seperti baketri, cendawan dan yang lainnya. Untuk membuat tegangan permukaan menjadi rendah dipergunakan larutan Tween 80 (1 tetes), larutan ini berfungsi agar eksplan yang ingin ditanam dapat dengan mudah menempel pada media sehingga keberhasilan tumbuh pada eksplan dapat meningkat.

Percobaan ini memakan waktu sekitar 4 minggu, dari 4 minggu tersebut dapat dilihat pertumbuhan dari eksplan. Dari tiga embrio yang ditanam satu diantaranya mengalami kegagalan akibat adanya kontaminasi, namun dua embrio yang lainnya masih terus tumbuh, mulai terlihat batangnya. Pada minggu kedua kontaminan yang menyerang biji pertama kemudian menyebar kepada biji yang kedua namun belum sempat menginvasi embrio biji yang ketiga. Pertumbuhan embrio yang ketiga sudah tampak daun yang tegak berjumlah 2 helai menjulang keatas. Sedangkan dua embrio yang lainnya terdapat kontaminan, sehingga wujud fisik dari embrio tersebut berwarna hitam dan dililit seperti kapas putih.

Minggu keempat kontaminan menyerang keseluruhan embrio padi yang ditanam. Terjadinya kontaminan tersebut diakibatkan oleh kurang hati-hatinya praktikan dalam bekerja pada ruang laminar, sehingga eksplan yang ditanam meskipun telah dilindungi dengan penggunaan bayclin 20% dan  penutupan sampai 2 cover, tetap terkontaminasi. Kontaminan yang menyerang eksplan merupakan dari kingdom fungi karena dilihat dari wujud fisiknya yang berupa hifa-hifa atau seperti kapas.

Kesimpulan

Percobaan kultur membuat kalus embrio padi IR-64 berhasil pada minggu kedua sampai minggu ketiga, namun setelah minggu keempat percobaan ini gagal karena terserang oleh kontaminan.

Daftar Pustaka

Dewi  IF, Ambarwati DG, Mahsyudi FH. 1994. Pembuatan kultur anter pada tanaman Padi (Oryza sativa). [Tesis] Bogor: Sekolah Pasca Sarjana IPB

Prosedur Sterilisasi Eksplan

Pendahuluan

Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptic yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbanyakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril. (Daisy. P dan Wijayani. A 1994). Salah satu tahapan pada kultur jaringan ialah sterilisasi. Sterilisasi ini penting dilakukan untuk menjaga keasptikan semua aspek saat kia bekerja mulai dari alat-alat, bahan yang digunakan (eksplan), dan juga manusianya. Sterilisasi adalah kegiatan dimana kegiatan awal setelah menyiapkan bahan eksplan, sterilisasi ini bertujuan agar terhindar dari faktor penyebab kontaminasi, inisiasi dilakukan di dalam ruangan yang steril salah satunya adalah laminar air flow cabinet.  Salah satu aspek yang penting ialah sterilisasi eksplan. Sterilisasi eksplan merupakan bagian yang paling sulit dalam proses produksi bibit melalui kultur jaringan. Sterilisasi biasanya dilakukan dalam beberapa tahap. Pertama eksplan dicuci dengan deterjen atau bahan pencuci lain, selanjutnya direndam dalam bahan-bahan sterilan baik yang bersifat sistemik atau desinfektan. Bahan-bahan yang biasa digunakan untuk sterilisasi antara lain clorox, kaporit atau sublimat.

Eksplan adalah organ penting atau sepotong jaringan dari tanaman yang digunakan dalam kultur jaringan. Eksplan yang baik adalah bagian jaringan yang belum banyak mengalami perubahan bentuk dan kekhusuan fungsi, atau dipilih bagian-bagian yang Bersifat meristematik. Eksplan yang digunakan ialah daun tembakau dan batang Jarak Pagar. Biasanya eksplan berasal dari organ yang masih utuh. Eksplan yang akan ditanam hendaknya disemprot dengan menggunakan fungisida atau insektisida terlebih dahulu agar tanaman induk bebas dari hama dan penyakit. Bukan hanya itu saja akan tetapi eksplan harus jelas asal usulnya, kemudian eksplan yang diambil sebaiknya yang masih muda.

Tujuan

Praktikum bertujuan mengetahui teknik sterilisasi dalam proses pembuatan kultur jaringan

Bahan dan Metode

Bahan dan alat yang digunakan dalam praktikum ini ialah daun tembakau, batang Jarak Pagar, sabun, fungisida Dithane M-45, bakterisida Agrept, aquades, alcohol 70%, Bayclin 10%, Tween 80%, pisau, penjepit.

Langkah-langkah dalam sterilisasi eksplan ialah bahan tanaman dicuci secara seksama dengan sabun dan dibilas bersih dengan air kran, lalu dipotong menjadi besaran tertentu agar seluruh jaringan terendam dalam larutan sterilan. Sterilisasi dengan larutan fungisida Dithane. Eksplan dipotong menjadi besaran tertentu agar seluruh jaringan terendam dalam larutan sterilan bakterisida dan dibilas dengan akuades steril. Selanjutnya direndam dalam alkohol 70% (30’), lalu direndam dalam larutan bayclin 20% dan ditambahkan 2 tetes Tween 80. Eksplan kemudian dibilas dengan akuades steril 3x dan ditiriskan secara aseptic. Eksplan siap ditanam dalam media.

Hasil Pengamatan

Gambar 2. Sterilisasi daun tembakau (terkontaminasi)

Pembahasan

Eksplan adalah bagian dari suatu organisme tanaman yang digunakan dalam kultur jaringan. Biasanya eksplan berasal dari organ yang masih utuh. Eksplan yang akan ditanam hendaknya disemprot dengan menggunakan fungisida atau insektisida terlebih dahulu agar tanaman induk bebas dari hama dan penyakit. Bukan hanya itu saja akan tetapi eksplan harus jelas asal usulnya, kemudian eksplan yang diambil sebaiknya yang masih muda. Kesesuaian bahan tanaman yang akan dijadikan eksplan dipengaruhi oleh banyak faktor. Ada tiga hal penting yang mempengaruhi respon eksplan yaitu : Kemampuan regenerasi, tingkat fisiologi, kesehatan dari eksplan.

Bahan eksplan yang digunakan oleh kami dalam praktikum ini ialah daun tembakau. Terdapat dua eksplan dalam dua media yang berbeda. Hasil yang didapat ialah satu eksplan mengalami kontaminasi sedangkan eksplan yang lain tidak mengalami kontaminasi. Eksplan yang mengalami kontaminasi terjadi pada minggu kedua setelah ditanam. Jenis kontaminannya ialah cendawan. Hal ini disebabkan oleh kesalahan dari praktikan yang kurang teliti dalam melakukan sterilisasi terhadap alat sebelum penanaman. Eksplan yang tidak mengalami kontaminasi tumbuh dengan baik, hal ini ditandai dengan adanya tunas tunas baru yang terbentuk.

Teknik kultur jaringan khususnya teknik sterilisasi eksplan  akan dapat berhasil dengan baik apabila syarat-syarat yang diperlukan terpenuhi. Syarat-syarat tersebut meliputi pemilihan eksplant sebagai bahan dasar untuk pembentukan kalus, pengunaan medium yang cocok, keadaan yang aseptik dan pengaturan udara yang baik terutama untuk kultur cair. Meskipun pada perinsipnya semua jenis sel dapat di tumbuhkan, tetapi sebiknya dipilih bagiantanaman yang masih muda dan mudah tumbuh yaitu bagian meristem, misalnya: daun muda, ujung akar, ujung batang, keping biji dan sebagainya.

Simpulan

Teknik sterilisasi eksplan sangat penting untuk menjaga keasptikan suatu eksplan. Selain itu teknik ini bertujuan untuk menghindari dan mencegah eksplan dari kontaminan. Hasil yang didapat ialah terdapat kontaminan pada eksplan satu dan eksplan 2 tetap tumbuh karan tidak terkontaminan.

Daftar Pustaka

Hendaryono, Sriyanti, Daysi.P dan Wijayani, Ari. 1994. Teknik Kultur Jaringan,    Pengenalan Dan Petunjuk Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif        Modern. Kanisias, yogyakarta.

Subkultur: Multiplikasi Tunas Anggrek (Dendrobium stratiotes) dan Nenas Bangka

Pendahuluan

Sub-kultur adalah suatu usaha untuk mengganti media kultur jaringan dengan media yang baru, sehingga kebutuhan nutrisi untuk kalus atau protokormus dapat terpenuhi (Sriyanti dan Wijayani 2004). Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan. Proses penggandaan tanaman dimana tanaman dipotong-potong pada bagian tertentu menjadi ukuran yang lebih kecil kemudian ditanam kembali ke media agar yang telah disiapkan. Proses ini dilakukan secara berulang setiap tanggal waktu tertentu. Pada setiap siklusnya tanaman dipotong dan menghasilkan perbanyakan dengan tingkat RM (Rate Of Multiplication) tertentu yang berbeda-beda untuk setiap tanaman. Kemampuan multiplikasi akan meningkat apabila biakan di subkultur berulang kali. Namun perlu diperhatikan, walaupun subkultur dapat meningkatkan faktor multiplikasi dapat juga meningkatkan terjadinya mutasi. Untuk itu, biakan perlu diistirahatkan pada media MS0, yaitu tanpa zat pengatur tumbuh. Biasanya pada jarak sebelum dilakukan induksi akar planlet di pindahkan dalam media MS  guna penetralan dari zpt yang sebelumnya diberikan. Media yang digunakan ialah media MS + BAP 0,5 mg/l. Eksplan yang digunakan ialah Tunas anggrek dan Nenas Bangka.

Tujuan

Praktikum ini bertujuan mengetahui teknik Subkultur dalam multiplikasi eksplan pada kultur jaringan.

Bahan dan Metode

Bahan dan alat yang digunakan dalam praktikum ini ialah Anggrek (Dendrobium stratiotes) dan Nenas Bangka, media MS + BAP 0,5 mg/l, pisau, penjepit, alkohol 70%.

Langkah-langkah dalam praktikum ini ialah disiapkannya media MS + BAP 0,5mg/l, lalu diambil 2-3 tunas anggrek. Tanam pada media yang telah disediakan. Lakukan pengamatan setiap minggu

Hasil Pengamatan

Gambar 3. Multiplikasi nenas Bangka.

Pembahasan

Sub kultur adalah usaha untuk menggantikan media dalam kultur jaringan dengan media yang baru, sehingga kebutuhan nutrisi untuk pertumbuhan kalus dapat terpenuhi. Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan. Multipikasi bertujuan untuk memperbanyak propagul. Media yang digunakan ialah MS yang ditambahkan BAP 0.5 mg/l. BAP berperan untuk memacu pertumbuhan tunas-tunas baru dari eksplan.

Eksplan yang digunakan ialah Nenas Bangka. Jumlah eksplannya ada dua buah pada dua media yang berbeda. Eksplan yang satu mengalaimi kontaminasi sedangkan eksplan yang lain tidak mengalami kontaminasi. Eksplan yang mengalami kontaminasi disebabkan oleh kelalaian prkatikan dalam meletakkan eksplan ke dalam media dan juga prosedur sterilisasi yang kurang baik. Eksplan yang tidak mengalami kontaminasi tumbuh dengan baik dan tunas-tunas baru pun tumbuh makin banyak.

Simpulan

Multiplikasi dilakukan untuk memperbanyak calon tanaman (tunas) dari eksplan yang ditanam. Keberhasilan teknik ini tergantung dengan keasptikan saat melakukan penanaman. Salah satu eksplan yang ditanam menunjukkan hasil yang baik dengan tumbuhnya tunas-tunas baru.

Daftar Pustaka

Sriyanti D.P. dan Wijayani A. 1994. Teknik Kultur Jaringan. Yayasan Kansius.      Yogyakarta. Hal. 18, 54, 57, 63, 67, 69, 82-83.


Kultur Stek Batang : Stek Buku Tunggal Tanaman Krisan Steril

Pendahuluan

Krisan merupakan bunga potong yang mempunyai nilai ekonomi tinggi,sehingga prospeknya sangat baik. Krisan dapat diperbanyak secara generatif dan vegetatif. Perbanyakan bunga krisan secara generatif jarang dilakukan karena sulit dan bersifat neterozigot (keturunan dari biji tidak sama dengan induknya). Selain itu,perbanyakan secara generatif membutuhkan waktu lama dan penanganan khusus.

Perbanyakan krisan secara vegetatif biasanya melalui setek pucuk, anakan dan kultur jaringan. Perbanyakan krisan secara kultur jaringan dapat menghemat waktu dan dapat diperoleh jumlah bibit krisan banyak. Menurut Nugroho dan Sugito (2000) tanaman krisan dapat dikembangkan dengan kultur jaringan melalui teknik meristem culture yaitu teknik kultur jaringan dengan menggunakan bagian tanaman jaringan muda atau meristem. Selain itu, kelebihan kultur meristem yang mampu menghasilkan bibit tanaman identik dengan induknya. Rice et al. (1992) mengatakan bahwa kultur meristem mampu meningkatkan laju induksi dan penggandaan tunas, mampu memperbaiki mutu bibit yang dihasilkan, serta mampu mempertahankan sifat-sifat morfologi yang positif. Dalam kultur jaringan sangat diperlukan zat pengatur tumbuh untuk merangsang pertumbuhan dan morfogenesis dalam kultur sel, jaringan dan organ. Zat pengatur tumbuh yang digunakan adalah auksin. Auksin yang digunakan adalah IAA dan NAA. Zat pengatur tumbuh ini diperlukan untuk pertumbuhan eksplan. Menurut Hendaryono dan Wijayanti (1994) pembentukan kalus, jaringan kuncup dan jaringan akar ditentukan oleh penggunaan zat pengatur tumbuh yang tepat baik macam maupun konsentrasinya

Tujuan

Mengetahui teknik stek buku pada tanaman krisan pada media MS + Auksin (IAA dan NAA) dan mengetahui proses pengakaran pada eksplan.

Bahan dan Metode

Bahan dan alat yang digunakan dalam praktikum ini ialah Krisan steril, media MS + IAA/NAA 0.1 mg/l, pisau, penjepit, alkohol 70%.

Langkah-langkah dalam praktikum ini ialah disiapkannya media MS + IAA/NAA 0.1 mg/l, lalu diambil stek dari buku tunggal tanaman krisan. Tanam pada media yang telah disediakan. Lakukan pengamatan setiap minggu.

Hasil Pengamatan

Gambar 4. Kultur stek Krisan dengan media MS + NAA 0.1 mg/l

Pembahasan

Tanaman krisan (Chrysanthemum morifolium R.) merupakan salah satu tanaman hias yang sangat populer di Indonesia. Pembudidayaannya banyak dilakukan mulai dari petani kecil hingga pengusaha besar. Petani kecil membudidayakan krisan dengan menerapkan teknologi sederhana, sedangkan pengusaha besar menggunakan teknologi modern berbasis agribisnis. Namun, ada beberapa kendala dalam usaha produksi krisan ini. Budidaya jaringan melalui pemuliaan tanaman dan penerapan teknik perbanyakan merupakan alternatif untuk mengatasi kendala tersebut. Langkah awal yang dilakukan adalah mencari formula zat pengatur tumbuh (ZPT) yang tepat, jenis eksplan, dan selanjutnya aklimatisasi planlet yang dihasilkan.

Auxin dan sitokin merupakan zat pengatur tumbuh yang biasanya dibutuhkan dalam media budidaya jaringan dan diberikan dalam konsentrasi yang sesuai dengan pertumbuhan yang diinginkan. Auxin dan sitokinin merupakan zat pengatur tumbuh yang kritis sehingga dalam penggunaannya harus hati-hati; perlu diteliti macam dan konsentrasinya. Penggunaan auxin dalam budidaya jaringan umumnya memberikan respon terhadap pemanjangan sel, pembentukan kalus, dan akar adventif, sedangkan pada konsentrasi tinggi mendorong pembentukan kalus saja.

Tanaman Krisan yang dijadikan eksplan pada praktikum ini dapat tumbuh dengan baik. Hal ini ditunjukkan pada pertumbuhan akar yang cukup banyak dan terjadi pertumbuhan aksilar. Pertumbuhan krisan cukup terhambat karena tunas yang ditanam terdapat daun. NAA disini berperan untuk memacu perakaran pada tanaman krisan.

Simpulan

Kultur stek buku tunggal pada tanaman krisan berhasil dilakukan. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan tunas aksilar meskipun pertumbuhan krisan itu sendiri agak terhambat karena terdapat daun pada tanaman krisan saat ditanam.

Daftar Pustaka

Hendaryono D. S. dan Wijayanti . 2000. Pedoman Kultur Jaringan. Penebar          Swadaya: Jakarta.

Nugroho A dan Sugito. 2000. Pedoman Pelaksanaan Kultur Jaringan. Penebar     Swadaya: Jakarta.

Rice R. D. et al. 1992. Micropropagation       Principles and Commercial Practise                dalam Plant Biotechnology. Fowler,           M.W., Warren, G.S. dan Moo, Y.M. (Ed.). Pergamon Press Oxford, New York, Seoul, Tokyo,p:130-149


Kultur Stek Batang : Stek Buku Tunggal Tanaman Krisan Steril

Pendahuluan

Krisan merupakan bunga potong yang mempunyai nilai ekonomi tinggi,sehingga prospeknya sangat baik. Krisan dapat diperbanyak secara generatif dan vegetatif. Perbanyakan bunga krisan secara generatif jarang dilakukan karena sulit dan bersifat neterozigot (keturunan dari biji tidak sama dengan induknya). Selain itu,perbanyakan secara generatif membutuhkan waktu lama dan penanganan khusus.

Perbanyakan krisan secara vegetatif biasanya melalui setek pucuk, anakan dan kultur jaringan. Perbanyakan krisan secara kultur jaringan dapat menghemat waktu dan dapat diperoleh jumlah bibit krisan banyak. Menurut Nugroho dan Sugito (2000) tanaman krisan dapat dikembangkan dengan kultur jaringan melalui teknik meristem culture yaitu teknik kultur jaringan dengan menggunakan bagian tanaman jaringan muda atau meristem. Selain itu, kelebihan kultur meristem yang mampu menghasilkan bibit tanaman identik dengan induknya. Rice et al. (1992) mengatakan bahwa kultur meristem mampu meningkatkan laju induksi dan penggandaan tunas, mampu memperbaiki mutu bibit yang dihasilkan, serta mampu mempertahankan sifat-sifat morfologi yang positif. Dalam kultur jaringan sangat diperlukan zat pengatur tumbuh untuk merangsang pertumbuhan dan morfogenesis dalam kultur sel, jaringan dan organ (Gunawan 1987). Zat pengatur tumbuh yang digunakan adalah sitokinin. Sitokinin dan BAP . Zat pengatur tumbuh ini diperlukan untuk pertumbuhan eksplan. Menurut Hendaryono dan Wijayanti (1994) pembentukan kalus, jaringan kuncup dan jaringan akar ditentukan oleh penggunaan zat pengatur tumbuh yang tepat baik macam maupun konsentrasinya.

Tujuan

Mengetahui teknik stek buku pada tanaman krisan pada media MS + Sitokini (Kinetin dan BAP).

Bahan dan Metode

Bahan dan alat yang digunakan dalam praktikum ini ialah Krisan steril, media MS + BAP/Kinetin 0.1 mg/l, pisau, penjepit, alkohol 70%.

Langkah-langkah dalam praktikum ini ialah disiapkannya media MS + BAP/Kinetin 0.1 mg/l, lalu diambil stek dari buku tunggal tanaman krisan. Tanam pada media yang telah disediakan. Lakukan pengamatan setiap minggu

Hasil Pengamatan

Gambar 5. Kultur stek Krisan dengan media MS + kinetin 0.1 mg/l

Pembahasan

Tanaman krisan (Chrysanthemum morifolium R.) merupakan salah satu tanaman hias yang sangat populer di Indonesia. Pembudidayaannya banyak dilakukan mulai dari petani kecil hingga pengusaha besar. Petani kecil membudidayakan krisan dengan menerapkan teknologi sederhana, sedangkan pengusaha besar menggunakan teknologi modern berbasis agribisnis. Namun, ada beberapa kendala dalam usaha produksi krisan ini. Budidaya jaringan melalui pemuliaan tanaman dan penerapan teknik perbanyakan merupakan alternatif untuk mengatasi kendala tersebut. Langkah awal yang dilakukan adalah mencari formula zat pengatur tumbuh (ZPT) yang tepat, jenis eksplan, dan selanjutnya aklimatisasi planlet yang dihasilkan.

Auxin dan sitokin merupakan zat pengatur tumbuh yang biasanya dibutuhkan dalam media budidaya jaringan dan diberikan dalam konsentrasi yang sesuai dengan pertumbuhan yang diinginkan. Auxin dan sitokinin merupakan zat pengatur tumbuh yang kritis sehingga dalam penggunaannya harus hati-hati; perlu diteliti macam dan konsentrasinya. Sitokinin digunakan untuk merangsang pembelahan sel, terutama bila ditambahkan bersama-sama dengan auxin. Konsentrasi 1,0 sampai 10,0 ppm mendorong pembentukan tunas adventif dan menghambat pembentukan akar. Pembentukan tunas aksilar meningkat karena menurunnya dominansi apical.

Tanaman Krisan yang dijadikan eksplan pada praktikum ini dapat tumbuh dengan baik. Hal ini ditunjukkan pada perbanyakan daun dan perbanyakan tunas yang cukup banyak dan terjadi pertumbuhan aksilar. Pertumbuhan krisan cukup terhambat karena tunas yang ditanam terdapat daun. Kinein  disini berperan untuk memacu pembentukan tunas akslar.

Simpulan

Kultur stek buku tunggal pada tanaman krisan berhasil dilakukan. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan tunas aksilar meskipun pertumbuhan krisan itu sendiri agak terhambat karena terdapat daun pada tanaman krisan saat ditanam.

Daftar Pustaka

Hendaryono D. S. dan Wijayanti . 2000. Pedoman Kultur Jaringan. Penebar          Swadaya: Jakarta.

Nugroho A dan Sugito. 2000. Pedoman Pelaksanaan Kultur Jaringan. Penebar     Swadaya: Jakarta.

Rice R. D. et al. 1992. Micropropagation       Principles and Commercial Practise                dalam Plant Biotechnology. Fowler,           M.W., Warren, G.S. dan Moo, Y.M. (Ed.). Pergamon Press Oxford, New York, Seoul, Tokyo,p:130-149

Comments are closed.